Orang Romawi zaman dahulu terkenal suka mengadakan pesta pora, lebih-lebih muda - mudinya. Konon ada semacam pesta ria yang disebut Lupercalia dan dirayakan setiap tanggal 15 Pebruari. Pada pesta tersebut dikumpulkan nama dara -dara cantik yang ada di kota, ditulis pada secarik kertas yang digulung dan dimasukkan ke dalam sebuah jambangan besar. Pada puncak acara, para pemuda saling berebutan mencabut satu nama di jambangan itu untuk dijadikan teman selama pesta itu berlangsung. Kalau beruntung, perkenalan itu bisa dilanjutkan sampai ke jenjang pernikahan. Kemudian pada era berikutnya, tersebutlah seorang pendeta yang sederhana, suka menolong, selalu memperhatikan jemaatnya, dan suci hatinya, yang bernama Valentine. Beliau ini mati syahid dan pada tanggal 14 Pebruari diresmikan oleh gereja sebagai seorang martir. Karena semasa hidupnya pendeta ini begitu mengagungkan kasih sayang kepada sesama, maka gereja lalu menjadikan setiap tanggal 14 pebruari sebagai hari Valentine. Maksudnya bukan untuk memuja orang yang sudah mati, tetapi mengabadikan prinsip hidupnya yang selalu didasarkan pada kasih sayang. Lalu digabunglah kedua peristiwa tersebut menjadi suatu tradisi yang indah. Di abad ke-17, seorang gadis yang mengharapkan mendapat pasangan hidup, memakan telur rebus sebanyak-banyaknya dan menempatkan lima lembar daun ‘bay’ (daun salam) di bawah bantalnya pada malam Valentine, dengan harapan bahwa dalam pesta malam itu ia akan berkenalan dengan ‘pangerannya’. Duke or Oreleans dianggap sebagai orang pertama yang membuat kartu Valentine. Ia terpenjara di Tower of London pada tahun 1415 dan dari penjara ia mengirimkan puisi-puisi bernada cinta kepada isterinya dan pesan-pesan bernada kasih sayang kepada anak-anaknya. Dan pada abad ke-18 para pemuda di Perancis membuat kartu-kartu Valentine yang besar bentuknya dan dihiasi renda-renda halus untuk dikirimkan kepada orang yang dikasihinya.
|
||||||||||||||

