Seorang imam Yesuit yang sudah lanjut usia bertugas
di sebuah paroki Betawi yang payah. Sang imam merasa jemu mendengar hampir semua orang yang masuk kamar pengakuan mengaku pernah berzinah dan mohon dosa mereka diampuni. Akhirnya, pada suatu misa Minggu, dari atas mimbar ia berkata, "Kalau ada satu orang lagi mengakukan dosa perzinahan, saya akan berhenti jadi imam!" Karena semua orang menyayangi imam tua yang lembut hati ini, mereka sepakat untuk memakai kata sandi "jatuh". Semenjak itu, setiap orang yang melakukan dosa zinah mengakukan dosanya "saya telah jatuh." Nah, rupanya itu membuat keadaan menjadi lebih baik. Sang imam tua yang lembut hati itu kembali ceria. Demikian pula umat di paroki itu. Bertahun-tahun berselang, dan wafatlah sang imam tua pada usia 93. Sebagai gantinya, seorang imam muda SCJ ditugaskan di sana. Baru beberapa hari bertugas, sang imam muda memanggil lurah yang kebetulan juga beragama Katolik. Sang imam tampak cemas sekali. "Pak Lurah, agaknya trotoar di kelurahan ini perlu diperbaiki. Hampir semua orang yang masuk ke kamar pengakuan bilang pernah jatuh!" Maka tertawalah sang lurah, sadar bahwa belum ada orang yang menceritakan kepada sang imam muda perihal kata sandi itu. Tapi sebelum sang lurah bercerita lebih lanjut untuk menjelaskannya, sang imam muda menyela, penuh keheranan: "Pak Lurah mengapa tertawa? Selama satu minggu kemarin, istri Pak Lurah sudah jatuh tiga kali!" |
||||||||||||||

