Secangkir kopi di pagi hari sungguh menyegarkan hariku. Rasa kantuk yang kurasakan sejak bangun tadi hilang dalam sekejap. Aroma pekat dari Black Coffee kesukaanku mengusir pergi kegalauan hati. Kuteguk perlahan sambil membuka Apple putih kesayanganku. Jam di tangan masih menunjukkan pukul 07.30. Sepertinya masih ada banyak waktu untuk ku bersantai sebelum masuk ke gedung di seberang sana. Gedung tempat menghabiskan sebagian hariku dengan segala aktifitas rutin yang membosankan. Aku mulai melakukan koneksi ke internet. Berhubung Coffee Shop ini menyediakan layanan Wi-Fi, rasanya sayang untuk tidak kumanfaatkan. Hampir setiap pagi kunikmati waktu disini sebelum melangkahkan kaki masuk ke kantor. Biasanya aku membuka situs berita.com, untuk mengetahui perkembangan berita terakhir entah itu politik, teknologi maupun olahraga sepak bola kesukaanku. Aku juga hampir tidak pernah absen membuka satu situs favoritku GreenTheSky.com. Ada satu penulis berinisial M3tt4. Setiap hari dia menuliskan inspirasinya lewat situs tersebut. Apa yang dituliskannya membuatku merasa sedikit lebih baik. Aku merasa sedikit terhibur dengan segala kepenatan di kepalaku. Selembar kertas putih melayang di hadapanku. Kupungut kertas yang jatuh di mata kaki. Sepertinya lembaran tersebut bagian dari sebuah naskah cerita. Tertera di sudut kanan bawah tulisan M3tt4. DEGG!! Jantungku berdegup heran. Aku kaget melihatnya!! Seorang gadis tergopoh-gopoh datang mendekat. Napasnya tersengal-sengal. “Maaf, boleh saya ambil kertas yang anda pegang?” ujarnya tersendat. Aku tersenyum. “Tentu saja! Ini punya kamu?” Kuberikan kertas tersebut sambil memperhatikan wajahnya. “Iya, ini punya saya. Terima kasih banyak ya!” Dia tersenyum dan segera memasukkan kertas ke dalam Map yang sedang dipegangnya. “Maaf, saya sedang buru-buru! Saya permisi dulu ya” Dia pergi dan berlari secepat kilat. Tampak memang sedang tergesa-gesa. Manis… Senyumnya masih dapat kurekam dalam otak kecilku. Penampilannya sederhana, tidak ada yang mencolok. Tapi senyumnya cukup manis untuk menghancurkan rasa pahit dalam kopiku. Ku menoleh sebentar melihat jam di tangan kiriku. Sudah saatnya aku menyudahi aktifitas kecil ini. Aku menyeberang melalui zebra cross yang sama setiap hari. Berat rasanya kaki ini untuk melangkah. “Buka kita buka hari yang baru…sebarkan semangat langkah terdepan…jadi pribadi baru!!” Suara ringtone HP ku berbunyi. “Hallo yang!! Aku mau ketemu klien bareng Tommy. Takutnya aku kelupaan ga telp. Kamu makan siang sendiri ya, luv you,” Caitlyn menutup telepon sebelum sempat kujawab. Sebenernya ada atau tidak telepon dari Caitlyn, aku memang hampir tidak pernah makan siang dengannya. Dia berangkat lebih pagi dari aku dan pulang lebih malam. Kesibukannya jauh di atas rata-rata. Jam 6.30 dia sudah berangkat ke tempat fitness di dalam Mall. Kemudian dia langsung ke kantor yang letaknya bersebelahan dengan tempatku bekerja. Di usianya yang sudah mencapai kepala tiga, dia tetap terlihat cantik dan menarik. Persis seperti anak ABG yang masih duduk di bangku kuliah. Walau letak kantor kita bersebelahan, aku jarang sekali mengantar dan menjemput Caitlyn. Seperti yang sudah kubilang tadi, dia selalu pergi sebelum aku bangun dan pulang di saat aku mulai tertidur. Aku sudah menikah dengannya hampir 5 tahun. Waktu itu aku masih berusia 25 tahun. Memang terkesan terlalu gegabah dan terburu-buru mengambil keputusan menikah di usia muda. Aku jatuh cinta dengan Caitlyn, bahkan tergila-gila. Dia adalah gadis cantik yang sangat mandiri. Banyak pria jatuh hati dan memujanya. Tapi dia memilihku. Aku yang waktu itu masih berjiwa muda, belum punya apa-apa untuk menghidupinya. Caitlyn sama sekali tidak keberatan dengan keadaanku yang masih menumpang pada orang tua. Usianya saat itu 26 tahun, terpaut setahun lebih tua dariku. Orang tua Caitlyn mendesak agar kita segera menikah, karena menurut mereka usia Caitlyn sudah sangat cukup. Awalnya Caitlyn tidak setuju. Dia masih punya banyak cita-cita. Jiwa mudanya masih ingin terus berlarian. Masih banyak mimpi yang belum dia capai. Namun mengingat orangtuanya sangat mengkhawatirkan dirinya, Caitlyn setuju untuk segera menikah. Dan orang itu aku. Kita menikah cukup meriah. Semua biaya dikeluarkan oleh orangtuaku, karena penghasilanku masih belum cukup untuk membayar pesta yang begitu megah. Rumah juga sudah disiapkan orangtua Caitlyn sebagai hadiah perkawinan kita. Aku dan Caitlyn adalah pasangan paling bahagia saat itu. Semua orang memuji kalau kita adalah pasangan serasi. Aku adalah pria yang paling beruntung di dunia. Awal pernikahan kita berjalan begitu baik. Walaupun perlu waktu untuk menyesuaikan kebiasaan kita yang agak berbeda. Tapi semua bisa dilewati dengan baik. Caitlyn tidak mau punya anak dulu. Dan aku menyanggupi permintaannya. Aku tau dia masih suka bekerja dan aku pikir usia kita juga masih terlalu muda untuk mempunyai seorang anak. Di tahun kedua pernikahanku dengannya, mulai muncul banyak masalah. Caitlyn mempunyai karir yang cemerlang. Dia melangkah begitu pesat. Sayang aku tidak bisa mengejarnya. Karirku sebagai Art Designer tersendat dan mulai melempem. Begitu banyak masalahku dengan Caitlyn yang membuatku semakin buntu. Tidak ada satupun karya hebat kuciptakan. Design sederhana saja kadang mendapat celaan dari atasanku. Tahun ketiga keadaan bertambah parah. Orangtuaku dan orangtua Caitlyn terus mendesak agar kita segera mempunyai anak. Apalagi usia Caitlyn hampir 30 tahun. Tapi aku tidak bisa beragumen apa-apa. Caitlyn masih belum siap mempunyai anak. Dia masih cinta dengan pekerjaannya sebagai Marketing Manajer di Fashion Magazine. Aku tidak pernah bermimpi kita berdua bisa terjebak dalam keadaan seperti ini. Pertengkaran selalu terjadi setiap hari. Aku yang dulu selalu mengalah dan memaklumi Caitlyn, sekarang sudah tidak perduli lagi. Untuk menghindari pertengkaran, Caitlyn selalu berangkat sebelum aku bangun dan pulang setelah aku mulai mengantuk. Selama dua tahun ini kita jalani kehidupan yang asing satu sama lain. Kita memang sudah jarang bertengkar, tapi kita juga sudah jarang bertemu. Aku sering memandang wajahnya di saat dia tertidur pulas. Bagiku dia masih sangat cantik. Walaupun ada satu atau dua kerutan kecil di matanya, aku tetap menganggap dia sebagai wanita tercantikku. Tapi rasa cinta itu sepertinya sudah tidak ada. Aku merasa sangat hampa. Aku semakin tidak mengenal istriku sendiri. Caitlyn masih sering meneleponku. Walau bagiku hanya terdengar seperti basa-basi. Setidaknya dia masih ingat untuk sekedar memberi kabar kalau dia sedang sibuk. Sesekali kita makan siang keluar. Tapi kita hanya terdiam sambil menikmati makanan masing-masing. Caitlyn tidak banyak bicara karena takut akan memicu pertengkaran yang akan membuat suasana harinya menjadi tidak baik. Aku tau dia tetap ingin hubungan kita baik-baik saja. Tapi bagiku semua ini hanya omong kosong yang tidak ada artinya. Hubungan aku dan dia sudah tidak sehat. Jam di Apple ku sudah menunjukkan pukul 12 siang. Sudah saatnya keluar untuk makan siang. Lebih tepatnya untuk mencari udara segar. Lokasi kantorku bersebelahan dengan toko buku Paper. Yang anehnya belum pernah sekalipun aku masuk ke dalamnya. Aku memang alergi buku. Bagiku Apple sudah cukup. Semua informasi bisa kudapatkan disana. Kebetulan hari ini Caitlyn pergi. Teman-teman kantor juga masih melakukan persiapan untuk meeting klien jam 2 ini. Mereka semua makan di dalam kantor. Mataku suntuk dan kuyu. Aku memutuskan pergi makan siang sendiri. Coffee Shop langgananku juga menyediakan menu Lunch. Sepertinya tempat yang paling nyaman memang disana. Setidaknya aku bisa menikmati suasana sejuk di sekitarnya. Sosok yang familiar keluar dari toko buku Paper. Gadis manis yang kujumpai pagi ini menyeberang jalan menuju Coffee Shop. Aku mengikutinya dari belakang. Karena tujuanku juga sama. Dia memesan secangkir Latte panas dan membawanya ke tempat duduk favoritku. Tempat itu terletak di bawah pohon rindang. Sangat strategis untuk melihat ke segala arah. Sangat sejuk sehingga tidak terasa kalau matahari menyengat begitu panas. Aku memesan Nasi Goreng Spesial plus secangkir Black Coffee Arabica. Lumayan buat menghilangkan kantuk setelah perut terisi penuh. Aku mengambil tempat di sebelah gadis tadi. Kelihatannya dia sangat sibuk. Dia membawa buku tebal dan tampak asyik menulis. Mukanya terlihat lucu dan menggemaskan. Tidak istimewa, tidak bersolek, tidak modis, tapi entah kenapa sangat menarik. Gadis itu tidak membosankan untuk dipandang. Rambutnya sebahu, kulitnya tidak terlalu putih. Bagiku dia terlalu sederhana. Sangat jauh dibandingkan dengan Caitlyn yang sempurna. Seorang barista muda menghampiri tempat gadis itu duduk. Mereka tampak sudah mengenal satu sama lain. Barista tadi hanya berbisik di telinganya kemudian pergi sambil mengacak-ngacak rambut sang gadis. Raut wajah gadis itu tampak cemberut sebentar, sambil menyapa pergi temannya tadi. Dia kemudian menoleh ke arahku dan tersenyum kecil. Sontak aku merasa kaget. Apa dia tahu kalau aku sedang memperhatikannya sejak tadi? Senyum kecut kuberikan untuknya. Ada sedikit rasa malu mengingat aku memang tidak pernah mengalihkan pandanganku darinya. Dia berdiri dan beranjak pergi. Aku melihatnya menyeberang jalan dan masuk ke dalam toko buku Paper. Tempat dimana dia keluar sebelum makan siang. Kemudian datang pelayan membersihkan tempat duduknya. Sepertinya tempat itu sudah siap kutempati sekarang. Segera setelah makananku habis, kutempati kursi favoritku. Kubawa sisa kopi di cangkir. Kubuka Apple sambil meneguk habis kopiku. Sepertinya ada sesuatu menusuk pantatku. Aku berdiri dan memeriksa benda apa yang menusukku daritadi. Ternyata kertas putih yang sudah dilipat kecil-kecil terselip di sela kursi kayu. Dengan rasa penasaran kubuka kertas itu. “Hi Pangeranku! Mungkin kamu bingung untuk siapa kutujukan surat ini. Karena kita belum mengenal sebelumnya. Aku hanya ingin menyapamu. Sudah lama ingin kulakukan itu, tapi sepertinya hari ini adalah hari keberuntunganmu Karena pagi ini kau sempat melihatku. Jangan takut ya! Karena aku tak akan mengganggumu. Sepertinya aku harus mengucapkan selamat tinggal sebelum sempat mengenalmu.
M3tt4”
|
||||||||||||||||


Back