CERPEN / RENUNGAN PERTOLONGAN TUHAN


Kategori :   Cerpen / Renungan
artikel :   Pertolongan Tuhan
Dilihat :   1017 Kali
Sumber :   deddy

Malam itu saya gelisah. Tidak bisa tidur. Pikiran saya bekerja ekstra

keras. Dari mana saya bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Sampai jam tiga

dini hari otak saya tetap tidak mampu memecahkan masalah yang saya hadapi.

Tadi sore saya mendapat kabar dari rumah sakit tempat kakak saya berobat.

Menurut dokter, jalan terbaik untuk menghambat penyebaran kanker payudara

yang menyerang kakak saya adalah dengan memotong kedua payudaranya. Untuk

itu, selain dibutuhkan persetujuan saya, juga dibutuhkan sejumlah biaya

untuk proses operasi tersebut.

 

Soal persetujuan, relatif mudah. Sejak awal saya sudah menyiapkan mental

saya menghadapi kondisi terburuk itu. Sejak awal dokter sudah menjelaskan

tentang risiko kehilangan payudara tersebut. Risiko tersebut sudah saya

pahami. Kakak saya juga sudah mempersiapkan diri menghadapi kondisi

terburuk itu.

 

Namun yang membuat saya tidak bisa tidur semalaman adalah soal biaya.

Jumlahnya sangat besar untuk ukuran saya waktu itu. Gaji saya sebagai

redaktur suratkabar tidak akan mampu menutupi biaya sebesar itu. Sebab

jumlahnya berlipat-lipat dibandingkan pendapatan saya. Sementara saya harus

menghidupi keluarga dengan tiga anak.

 

Sudah beberapa tahun ini kakak saya hidup tanpa suami. Dia harus berjuang

membesarkan kelima anaknya seorang diri. Dengan segala kemampuan yang

terbatas, saya berusaha membantu agar kakak dapat bertahan menghadapi

kehidupan yang berat. Selain sejumlah uang, saya juga mendukungnya secara

moril. Dalam kehidupan sehari-hari, saya berperan sebagai pengganti ayah

dari anak-anak kakak saya.

 

Dalam situasi seperti itu kakak saya divonis menderita kanker stadium

empat. Saya baru menyadari selama ini kakak saya mencoba menyembunyikan

penyakit tersebut. Mungkin juga dia berusaha melawan ketakutannya dengan

mengabaikan gejala-gejala kanker yang sudah dirasakannya selama ini. Kalau

memikirkan hal tersebut, saya sering menyesalinya. Seandainya kakak saya

lebih jujur dan berani mengungkapkan kecurigaannya pada tanda-tanda awal

kanker payudara, keadaannya mungkin menjadi lain.

 

Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Pada saat saya akhirnya memaksa dia

memeriksakan diri ke dokter, kanker ganas di payudaranya sudah pada kondisi

tidak tertolong lagi. Saya menyesali tindakan kakak saya yang

"menyembunyikan" penyakitnya itu dari saya, tetapi belakangan ? setelah

kakak saya tiada -- saya bisa memaklumi keputusannya. Saya bisa memahami

mengapa kakak saya menghindar dari pemeriksaan dokter. Selain dia sendiri

tidak siap menghadapi kenyataan, kakak saya juga tidak ingin menyusahkan

saya yang selama ini sudah banyak membantunya.

 

Namun ketika keadaan yang terbutruk terjadi, saya toh harus siap

menghadapinya. Salah satu yang harus saya pikirkan adalah mencari uang

dalam jumlah yang disebutkan dokter untuk biaya operasi. Otak saya

benar-benar buntu. Sampai jam tiga pagi saya tidak juga menemukan jalan

keluar. Dari mana mendapatkan uang sebanyak itu?

 

Kadang, dalam keputus-asaan, terngiang-ngiang ucapan kakak saya pada saat

dokter menganjurkan operasi. "Sudahlah, tidak usah dioperasi. Toh tidak ada

jaminan saya akan terus hidup," ujarnya. Tetapi, di balik ucapan itu, saya

tahu kakak saya lebih merisaukan beban biaya yang harus saya pikul. Dia

tahu saya tidak akan mampu menanggung biaya sebesar itu.

 

Pagi dini hari itu, ketika saya tak kunjung mampu menemukan jalan keluar,

saya lalu berlutut dan berdoa. Di tengah kesunyian pagi, saya mendengar

begitu jelas doa yang saya panjatkan. "Tuhan, sebagai manusia, akal

pikiranku sudah tidak mampu memecahkan masalah ini. Karena itu, pada pagi

hari ini, aku berserah dan memohon Kepada-Mu. Kiranya Tuhan, Engkau membuka

jalan agar saya bisa menemukan jalan keluar dari persoalan ini." Setelah

itu saya terlelap dalam kelelahan fisik dan mental.

 

Pagi hari, dari sejak bangun, mandi, sarapan, sampai perjalanan menuju

kantor otak saya kembali bekerja. Mencari pemecahan soal biaya operasi.

Dari mana saya mendapatkan uang? Adakah Tuhan mendengarkan doa saya?

Pikiran dan hati saya bercabang. Di satu sisi saya sudah berserah dan yakin

Tuhan akan membuka jalan, namun di lain sisi rupanya iman saya tidak cukup

kuat sehingga masih saja gundah.

 

Di tengah situasi seperti itu, handphone saya berdering. Di ujung telepon

terdengar suara sahabat saya yang bekerja di sebuah perusahaan public

relations. Dengan suara memohon dia meminta kesediaan saya menjadi

pembicara dalam sebuah workshop di sebuah bank pemerintah. Dia mengatakan

terpaksa menelepon saya karena "keadaan darurat". Pembicara yang seharusnya

tampil besok, mendadak berhalangan. Dia memohon saya dapat menggantikannya.

 

Karena hari Sabtu saya libur, saya menyanggupi permintaan sahabat saya itu.

Singkat kata, semua berjalan lancar. Acara worskshop itu sukses. Sahabat

saya tak henti-henti mengucapkan terima kasih. Apalagi, katanya, para

peserta puas. Bahkan pihak bank meminta agar saya bisa menjadi pembicara

lagi untuk acara-acara mereka yang lain.

 

Sebelum meninggalkan tempat workshop, teman saya memberi saya amplop berisi

honor sebagai pembicara. Sungguh tak terpikirkan sebelumnya soal honor ini.

Saya betul-betul hanya berniat menyelamatkan sahabat saya itu. Tapi sahabat

saya memohon agar saya mau menerimanya.

 

Di tengah perjalanan pulang hati saya masih tetap risau. Rasanya tidak enak

menerima honor dari sahabat sendiri untuk pertolongan yang menurut saya

sudah seharusnya saya lakukan sebagai sahabat. Tapi akhirnya saya berdamai

dengan hati saya dan mencoba memahami jalan pikiran sahabat saya itu. Malam

hari baru saya berani membuka amplop tersebut. Betapa terkejutnya saya

melihat angka rupiah yang tercantum di selembar cek di dalam amplop itu.

Jumlahnya sama persis dengan biaya operasi kakak saya! Tidak kurang dan

tidak lebih satu sen pun. Sama persis!

 

Mata saya berkaca-kaca. Tuhan, Engkau memang luar biasa. Engkau Maha Besar.

Dengan cara-Mu Engkau menyelesaikan persoalanku. Bahkan dengan cara yang

tidak terduga sekalipun. Cara yang sungguh ajaib.

 

Esoknya cek tersebut saya serahkan langsung ke rumah sakit. Setelah

operasi, saya ceritakan kejadian tersebut kepada kakak saya. Dia hanya bisa

menangis dan memuji kebesaran Tuhan. Tidak cukup sampai di situ. Tuhan

rupanya masih ingin menunjukkan kembali kebesaran-Nya. Tanpa sepengetahuan

saya, Surya Paloh, pemilik harian Media Indonesia tempat saya bekerja,

suatu malam datang menengok kakak saya di

rumah sakit. Padahal selama ini saya tidak pernah bercerita soal kakak

saya.

 

Saya baru tahu kehadiran Surya Paloh dari cerita kakak saya esok harinya.

Dalam kunjungannya ke rumah sakit malam itu, Surya Paloh juga memutuskan

semua biaya perawatan kakak saya, berapa pun dan sampai kapan pun, akan dia

tanggung. Tuhan Maha Besar.

 

 

 ys

 

 
_.::._
 


GreenTheSky

artikel Menarik Lainya
Cerpen / Renungan